Fikrah

Waktu Kada Karasaan

Banyak orang di akhirat nanti yang merasa rugi dan menyesal karena waktu di dunia tidak digunakan sebaik mungkin untuk beramal

Tayang:
Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Umur merupakan bagian dari rahasia Allah. Setiap manusia memiliki jatah umur masing-masing.

Dari Imam at-Turmudzi, seorang bertanya kepada Nabi,; Wahai Rasul siapakah manusia yang terbaik? Maka Rasul SAW bersabda: “Siapa yang panjang usianya dan baik amalnya”. (HR. at-Turmudzi). Jika manusia yang terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya, maka dianjurkan meminta kepada Allah diberikan umur yang panjang.

Sebagaimana para sahabat r.hum yang memiliki perhatian besar terhadap bertambahnya usia, Rasulullah SAW juga mewanti-wanti akan potensi usia yang bisa melalaikan, sebagaimana sabdanya: “Dua nikmat yang banyak dilupakan oleh kebanyakan manusia yaitu sehat dan waktu luang”. (HR. al-Bukhari)

Hadis ini memberitakan bahwa waktu luang adalah nikmat yang besar dari Allah SWT, tetapi banyak manusia tertipu dan mendapatkan kerugian terhadap nikmat ini.

Di antara bentuk kerugian: Pertama, seseorang tidak mengisi waktu luangnya dengan bentuk yang paling sempurna. Seperti menyibukkan waktu luangnya dengan amalan yang kurang utama, padahal ia bisa mengisinya dengan amalan yang lebih utama.

Kedua, dia tidak mengisi waktu luangnya dengan amalan-amalan yang utama, yang memiliki manfaat bagi agama atau dunianya. Namun kesibukkannya adalah dengan perkara-perkara mubah yang tidak berpahala.

Ketiga, dia mengisinya dengan perkara yang haram, ini adalah orang yang paling tertipu dan rugi. Karena ia menyia-nyiakan kesempatan memanfaatkan waktu dengan perkara yang bermanfaat. Tidak hanya itu, bahkan ia menyibukkan waktunya dengan perkara yang akan menggiringnya kepada azab Allah di dunia dan di akhirat.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam salah satu karyanya mengatakan, bahwa bertambahnya umur dan kebaikan menjadi barometer keimanan seseorang. Karena orang-orang yang beriman akan terus bertambah kebaikannya seiring dengan bertambahnya umur.

Dalam kitab Lathaiful Ma’arif dijelaskan, “Maka orang beriman yang menunaikan semua ketentuan-ketentuan iman, tidak akan bertambah dari panjangnya umur selain (juga bertambah) kebaikan. Dan, siapa saja yang bisa seperti ini, maka hidup (di dunia) lebih baik baginya daripada mati”.

Banyak orang di akhirat nanti yang merasa rugi dan menyesal karena waktu di dunia tidak digunakan sebaik mungkin untuk beramal, mereka yang di neraka itu berteriak: “Ya Rabb, kalau aku diberi kesempatan kembali lagi ke dunia, hanya akan aku gunakan untuk beramal kebaikan dan ketaatan kepadamu”. Namun, itu hanyalah harapan yang tidak akan pernah terlaksana, ungkapan penyesalan yang hanya akan menambah kesakitan. Jangan biarkan semua terlewati dengan sia-sia karena akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat

Ingatkah Anda dengan salah satu hadis Nabi SAW yang sangat terkenal yang berbunyi “Gunakanlah lima perkara sebelum lima perkara (yaitu) waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu”. (HR. al-Nasa’i).

Cukuplah dengan hadits tersebut, Anda akan merasakan betapa berharganya waktu! (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved