Opini Publik

Quo Vadis Kaum Intelektual Banua

Jika intelektual memilih diam, ruang tak akan kosong. Ia diisi suara paling keras dan bukan yang paling benar

Tayang:
Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/Istimewa
Muhammad Ikhsan Alhak Kepala Dispersip Kota Banjarmasin. 

Namun strategi selalu menggoda. Karena itu, ia mesti memegang batas etis: tak memelihara kemarahan sebagai bahan bakar, tak memanipulasi emosi, tak menjadikan klik sebagai ukuran kebenaran.

Ia mempelajari mesin agar tak menjadi bagian darinya. Ia memahami logika sebaran—judul, konteks, waktu unggah—namun menolak jalan pintas yang mengorbankan ketelitian.

Contoh nasional mudah dikenali: polarisasi menjelang pemilu, hoaks kebijakan, perdebatan hukum yang tereduksi menjadi potongan video. Narasi sensasional melaju lebih cepat daripada analisis telaten.

Di daerah, gejala serupa terasa. Isu tata kelola, manajemen pemerintah lokal, konflik sumber daya, atau kebijakan lingkungan sering dipahami lewat framing media sosial, bukan substansi. Jika intelektual absen, ruang itu diisi simplifikasi— rapi di layar, tapi rapuh di kenyataan.

Namun Banua memiliki kanal komunikasi yang kerap luput dibaca sebagai media. Di banyak sudut kota dan kampung, tradisi mawarung kopi selepas subuh masih hidup. Habis salat, orang duduk, bertukar kabar, menimbang isu juga menguji cerita.

Informasi tak hanya disebar, tetapi ditanya balik. Isu dari gawai diuji di meja kopi. Obrolan warung berpindah menjadi pesan berantai.

Warung kopi, dalam arti tertentu, adalah algoritma sosial manual. Ia mengurutkan isu yang dianggap penting, menyaring yang layak dipercaya, menunda yang meragukan.

Kurasinya terjadi lewat tatap muka dan reputasi sosial. Ketika interaksi digital datang, ia tak jatuh di ruang hampa; ia bertemu nalar komunitas yang telah  terbentuk. meski tak selalu bebas bias.

Di sinilah jembatan lokal digital ditegakkan. Tradisi mawarung kopi menjadi ruang penjernihan yang melengkapi ruang digital.

Sebaliknya, ruang digital memperluas percakapan warga bila diisi etika yang sama: bertanya sebelum menyebar, menimbang sebelum menghakimi.

Namun hadir di dua ruang itu saja tak cukup. Tantangan yang lebih sunyi adalah nihilisme—pandangan bahwa kebenaran relatif dan integritas dianggap naif. Saat rujukan memudar, yang tersisa hanya kebisingan.

Karena itu, “quo vadis” bukan retorika, melainkan panggilan menentukan posisi.

Banua tak kekurangan orang cerdas. Kampus melahirkan sarjana setiap tahun. Komunitas diskusi tumbuh.

Tetapi kecerdasan tanpa keberanian hanya menjadi arsip. Pengetahuan tanpa tanggung jawab sosial berhenti sebagai catatan kaki.

Tugas intelektual masa kini setidaknya 3 (tiga): menjaga disiplin metodologis, membangun literasi publik dengan bahasa jernih, dan memahami ekologi informasi digital tanpa kehilangan etika. Di tengah arus disinformasi, verifikasi tetap garis pertahanan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved