Opini Publik
Quo Vadis Kaum Intelektual Banua
Jika intelektual memilih diam, ruang tak akan kosong. Ia diisi suara paling keras dan bukan yang paling benar
Muhammad Ikhsan Alhak Kepala Dispersip Kota Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- LEBIH dari lima bulan sejak wafatnya Dr. Mohammad Effendy, SH, MH pada 2 September 2025, ruang diskusi di Banjarmasin masih menyimpan gema pikirannya.
Minggu sore (15/2/2026) di Rumah Alam Sungai Andai, Forum Ambin Demokrasi dan LK3 Banjarmasin mempertemukan dosen, peneliti, aktivis, jurnalis, dan mahasiswa. Kami tak sekadar mengenang, melainkan membaca arah.
Diskusi itu jauh dari seremoni. Ia menjadi cermin ruang publik kita. Dari sana muncul pertanyaan yang melampaui garis nostalgia: ke mana arah kaum intelektual Banua hari ini?
Selama puluhan tahun, almarhum dikenal bukan hanya sebagai pengajar hukum tata negara, tetapi ia juga tercatat sebagai salah satu penggerak percakapan publik.
Ketika ruang formal terasa sempit, beliau membuka dialog di luar kampus. Pengetahuan baginya bukan sekadar materi kuliah, melainkan alat menjernihkan kebijakan dan menguji kuasa.
Dalam diskusi itu, konsep “intelektual organik” kembali mengemuka. Antonio Gramsci (1971) membedakan intelektual tradisional yang menjaga jarak dan intelektual organik yang hadir dalam dinamika sosial.
Intelektual organik bukan agitator, melainkan penjaga kesadaran kolektif—setia pada metodologi, akrab dengan realitas.
Kita hidup di era ketika otoritas keilmuan kerap disetarakan dengan opini sepintas. Tom Nichols (2017) menyebutnya “matinya kepakaran”, seiring publik makin meragukan otoritas ilmiah.
Di ruang digital, semua bisa berbicara; yang paling cepat sering dipercaya lebih dulu daripada yang paling cermat.
Dalam lanskap ini, hegemoni tak lagi hanya dibentuk negara atau kelas dominan, melainkan algoritma. Arus informasi tak sepenuhnya kita pilih; ia justru dipilihkan. Pola konsumsi pengetahuan dibentuk sistem tanpa wajah yang menentukan apa yang terlihat dan apa yang tereliminasi.
Di titik inilah posisi intelektual perlu dibaca ulang. Jika dulu perdebatan berkisar pada tradisional dan organik, kini muncul medan baru: “intelektual algoritmik”.
Istilah ini bukan memuliakan teknologi, melainkan mengakui perubahan arena pertarungan gagasan. Intelektual algoritmik memahami cara informasi bekerja—bagaimana opini digerakkan, emosi dipicu, persepsi dibentuk.
Ia bukan buzzer, dan tidak sekadar influencer. Ia tetap berpijak pada metodologi dan etika, sadar bahwa gagasan tanpa strategi distribusi akan cepat tenggelam.
Ia bukan sekadar akademisi yang aktif di media sosial. Ia tahu kebenaran perlu jalan agar sampai. Ia mampu memadatkan gagasan tanpa mengencerkan isi, menjaga akurasi sambil menata ritme sesuai kebiasaan baca publik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Muhammad-Ikhsan-AlhakKepala-DispersipKota-Banjarmasin.jpg)