Opini Publik
Quo Vadis Kaum Intelektual Banua
Jika intelektual memilih diam, ruang tak akan kosong. Ia diisi suara paling keras dan bukan yang paling benar
Dalam diskusi sore itu terasa bukan hanya kenangan, melainkan kegelisahan. Ruang publik kian riuh, sementara suara nalar sering tersisih. Namun kegelisahan dapat menjadi energi.
Kemana Arah Kaum Intelektual Banua?
Bukan kembali pada romantisme, bukan pula sekadar bertanding teori. Arah itu terletak pada keberanian menempatkan diri secara sadar.
Berpijak pada metodologi yang kokoh, berpihak pada kepentingan publik, dan membaca dinamika zaman tanpa kehilangan integritas. Intelektual organik tetap dibutuhkan, tapi ia pun mesti cakap algoritmik.
Jika intelektual memilih diam, ruang tak akan kosong. Ia diisi suara paling keras dan bukan yang paling benar.
Sebaliknya bila mereka hadir di kampus, komunitas, ruang digital, juga misalnya di meja warung kopi selepas subuh, pengetahuan tetap memiliki daya arah.
Diskusi di Sungai Andai sudah usai. Gerimis reda. Namun pertanyaan itu tinggal sebagai suluh batin: apakah kita akan menjadi penonton perubahan, atau kesadaran yang mengarahkannya?.
Di situlah makna terdalam perjalanan intelektual. Bukan sekadar profesi, melainkan sikap moral. Dari sikap itulah intelektual Banua menjaga kompasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Muhammad-Ikhsan-AlhakKepala-DispersipKota-Banjarmasin.jpg)