Kolom

Oligarki, Reformasi dan Resentralisasi

Sebagian orang menilai gerakan mahasiswa kali ini sebagai langkah menuju Reformasi Jilid 2. Kita tentu ingat bahwa pada Mei 1998

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Foto Ist
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin 

Pendirian Danantara, berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti food estate, perkebunan sawit, MBG dan KDMP, adalah langkah-langkah sentralisasi itu. Untuk memperlancar upayanya, sebagai tokoh yang berlatarbelakang militer, Prabowo semakin banyak melibatkan militer dalam berbagai urusan sipil.

Menyimak narasi Vedi, saya merasa ngeri-ngeri sedap. Misalnya, Vedi mengatakan bahwa partai-partai politik saat ini tak lebih dari persekongkolan sementara antara kepentingan-kepentingan yang dominan, yang nyaris tanpa ideologi.

Jika pun muncul konflik yang berwarna ideologis di tingkat massa, maka itu sekadar gejala permukaan, yang di baliknya justru digerakkan oleh kepentingan-kepentingan tadi. Vedi juga menilai, korupsi adalah “bahan bakar” sistem ekonomi-politik Indonesia. Artinya, selama sistem ekonomi-politik kita seperti ini, korupsi akan terus merajalela.

Di sisi lain, menurut Vedi, bagaimanapun, resentralisasi Prabowo sedang dan akan menghadapi banyak kontradiksi. Gejolak ekonomi di tanah air saat ini, mulai dari nilai tukar rupiah yang makin merosot terhadap dolar hingga kenaikan harga BBM, antara lain adalah karena ongkos resentralisasi tersebut.

Resentralisasi juga akan membuat oligarki di tingkat daerah merasa ditinggalkan. Salah satu gejalanya adalah protes beberapa kepala daerah atas kebijakan pemotongan anggaran mereka. Beberapa PSN juga menimbulkan penolakan dari sebagian masyarakat lokal.

Lantas, adakah harapan bagi rakyat biasa, yang berada di luar oligarki (pengusaha-politisi-birokrasi) untuk menggapai keadilan dan kesejahteraan? Menurut Vedi, semua ini akan sangat tergantung pada kemampuan mereka mengelola kontradiksi-kontradiksi di atas sebagai peluang bagi pembentukan gerakan yang terpadu berdasarkan visi yang sama.

Menurutnya, ini bukanlah kerja sehari dua hari, melainkan kerja jangka panjang bertahun-tahun. Sayang, hingga saat ini, dia belum melihat adanya aliansi di masyarakat sipil yang cukup berpengaruh untuk melakukan gerakan tersebut.

Bagi sebagian orang, gambaran Vedi mungkin terasa pesimistis, sementara bagi yang lain justru terasa realistis. Yang pasti, Vedi telah membantu kita memahami apa yang tengah terjadi, dan memperkirakan apa yang bakal terjadi. Ke depan, tugas kita adalah menindaklanjutinya.

Kita bisa memilih untuk mewujudkan Reformasi Jilid 2, me-Reset Indonesia, atau mendukung aliansi kekuasaan saat ini. Kita bebas memilih, dan tiap pilihan akan ada akibatnya, di dunia dan akhirat! (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
VS
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved