Jendela

Nasihat

Manusia bukanlah makhluk sempurna. Karena itu, dia perlu nasihat. Nasihat adalah saran, anjuran dan petunjuk tentang kebaikan atau teguran

Penulis: nurlembang | Editor: Hari Widodo
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Kalimantan

BANJARMASINPOST.CO.ID - Manusia bukanlah makhluk sempurna. Karena itu, dia perlu nasihat. Nasihat adalah saran, anjuran dan petunjuk tentang kebaikan atau teguran dan peringatan tentang kerusakan.

Dalam budaya kita, biasanya yang tua menasihati yang muda berdasarkan anggapan bahwa yang tua telah banyak makan asam garam kehidupan dibanding yang muda, yang masih bau kencur. Padahal, anggapan ini tidak selalu benar.

Tidak sedikit orang yang tua-tua keladi, makin tua makin gatal. Tidak sedikit pula anak muda yang telah berhasil menyelami dan menghayati makna hidup sedalam-dalamnya.

“Tua itu usia. Dewasa itu pilihan,” kata sebuah iklan.

Usia adalah perhitungan rentang waktu hidup seseorang, sedangkan kedewasaan adalah kualitas pribadinya. Kedewasaan itu ibarat buah yang sudah matang atau nasi yang sudah masak. Kedewasaan itu hikmat atau kebijaksanaan dan kearifan.

Wisma Hunian Lapas Khusus Anak Martapura Dirazia, Petugas Temukan Barang Terlarang

Detik-detik Pacar Tikam Wanita Gendong Balita hingga Tewas, Polisi Ungkap Faktor Celana Dalam

Ingin Cepat Punya Anak, Simak 11 Cara Ini Bikin Sperma Sehat Agar Istri Hamil

Heboh Rekening Kasino Milik Kepala Daerah, Ketua KPK Saut Situmorang Sampaikan Tanggapan Ini

Menurut sebagian filosof, hikmat adalah pengetahuan tentang kebaikan dan kemampuan mengamalkannya.
Demikian juga ada anggapan bahwa atasan lebih bijak dari bawahannya karena jika tidak, maka dia tidak akan menjadi atasan atau pejabat.

Anggapan ini juga tidak sepenuhnya benar. Bukankah sebagian orang menjadi pejabat bukan karena dia sangat layak, melainkan karena dia mampu membayar. Bahkan, andai si pejabat adalah orang baik, dia pun tak mungkin memahami segala masalah. Dia tetap perlu nasihat.

Karena itu, baik orang yang terlanjur sudah tua dan dituakan ataupun yang tengah menduduki jabatan, dia tetap memerlukan nasihat, dari manapun datangnya, termasuk dari yang muda.

“Pandanglah apa yang dikatakan orang. Jangan pandang siapa yang mengatakannya,” kata pepatah. “Hikmat itu barang hilangnya orang beriman. Di mana pun dia menemukannya, dia akan mengambilnya,” kata Nabi.

Namun, sebagian orang masih susah lepas dari gengsi. Mengakui dan menerima saran dari yang muda atau bawahan rasanya kok berat. Apalagi di era media sosial ini. Antara saran, nasihat, kritik dan caci maki kadangkala sudah bercampur baur.

Orang semakin subjektif. Segala sesuatu dinilai berdasarkan seleranya sendiri. Kalau sudah suka, dipuja bagai dewa. Sebaliknya, kalau sudah benci, dicaci bagai iblis.

Jika nasihat yang muda atau bawahan sulit diterima, maka orang perlu nasihat dari sahabatnya. Sahabat bukanlah teman biasa, melainkan teman yang sudah mengenal kita lahir batin dan selalu menginginkan kebaikan untuk kehidupan kita.

Orang yang dengki pada temannya yang sukses bukanlah sahabat. Orang yang mau berteman hanya karena ingin mendapat keuntungan laksana pedagang, bukan pula sahabat.

Masalahnya, sahabat sejati itu adalah makhluk yang langka. Ketika kita suka dan jaya, banyak orang yang mau mendekati dan menemani, tetapi ketika kita jatuh dalam kehinaan, sangat sedikit bahkan tidak ada orang yang mau mengenal kita. Apalagi di dunia politik, kawan dan lawan itu tergantung kepentingan. Jangan terlalu berharap ada sahabat yang selalu setia dalam suka dan duka di dunia semacam itu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved