Opini Publik

Dokter Tanaman Menunggu Jawaban

Kelahiran Program Studi Profesi Dokter Tanaman diharapkan menghasilkan tenaga profesional yang mampu memecahkan permasalahan di lahan

Editor: Hari Widodo
istimewa
Prof Dr Ir H Ismed Setya Budi MS Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Tumbuhan ULM 

Semua tanaman menghadapi masalah gangguan hama dan penyakit, baik di tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun tanaman hutan dan bahkan sampai ke tahapan pascapanen di penyimpanan.

Di Kalimantan Selatan permasalahan hama dan penyakit di lahan sangat banyak dan sering. Banyak faktor penentu yang mengakibatkan hama dan penyakit mulanya rendah tapi tiba-tiba meluluhlantakkan harapan petani karena tanaman gagal panen.

Pada tanaman perkebunan, masalah utama hama penggerek batang tanaman dan penyakit jamur akar putih masih menjadi masalah rumit.

Penyakit buah busuk kakao, penyakit VSD, dan penggerek buah kakao, penggerek buah kopi dan penyakit karat kopi; penyakit busuk batang ganoderma pada tanaman kelapa dan kelapa sawit di banyak perkebunan; hama sexava-artona-kumbang badak tanaman kelapa; gulma di sawah, perkebunan juga masalah yang belum tuntas dicarikan solusi berkelanjutan yang bisa menjamin tersedianya produk pertanian  berkualtias untuk manusia hidup sehat.

Pada tanaman hortikultura, hama penggerek daun dan penyakit moler pada tanaman bawang merah, penyakit virus kuning, penyakit antraknosa buah tanaman caba; penyakit layu panama dan layu fusarium pada pisang; penyakit kanker batang dan lalat buah tanaman jeruk sering terjadi pada hampir semua komoditas pertanian primer yang sangat kita perlukan setiap saat.

Khusus tanaman padi sebagai pemasok utama pangan kehidupan juga mengalami masalah berat, karena berbagai hama, dan penyakit yang selalu ada tiap musim. Selain organisme pengganggu tumbuhan yang bersifat biotik, juga ada yang bersifat abiotik, dan ini terjadi di banyak tanaman di berbagai daerah.

Semua permasalahan tersebut akan selalu ada dan berpengaruh pada semua tanaman budidaya di Indonesia. Hal ini membutuhkan keterampilan khusus di dalam mengidentifikasi dan memutuskan cara pencegahan maupun pengelolaannya.

Oleh karena itulah, keberadaan tenaga profesional yang berperan seperti dokter pada manusia dan dokter hewan sangat diperlukan dalam memecahkan masalah tersebut.

Adanya dokter tanaman sangat dibutuhkan, dengan asumsi untuk mengurus kesehatan manusia ada dokter manusia dan terhadap hewan ada dokter hewan; sedangkan terhadap tanaman belum ada dokter tanaman. Padahal manusia bisa sehat bila yang dikonsumsi adalah produk pertanian yang sehat dan menyehatkan.

Kelahiran Program Studi Profesi Dokter Tanaman diharapkan menghasilkan tenaga profesional yang mampu memecahkan permasalahan di lahan dengan hasil memuaskan semua pihak.

Semua ini mengingat permasalahan hama dan penyakit tanaman di lahan sangat kompleks dan beragam. Penyiapan sumber daya manusia andal oleh Perguruan Tinggi tidak hanya didapat dari pemberian materi di ruangan kuliah, tapi sangat penting untuk melihat realita berbagai kejadian di lapangan dan pengalaman di instansi terkait.

Tak mustahil patogennya sama tapi gejala yang ditimbulkan berbeda, dan sebaliknya patogen berbeda tapi gejalanya sama. Inilah perlunya dokter tanaman sebagai tenaga ahli profesional yang mampu mengatasi masalah OPT dan memberi solusi tepat sebelum gagal panen terjadi.

Mengingat berbagai permasalahan hama dan penyakit di lahan sangat kompleks maka diperlukan mitra sebagai tempat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman calon dokter tanaman. Saatnya semua pihak bersinergi agar keberadaan dokter tanaman dirasakan manfaatnya.

Instansi pemerintah yang bisa menjawab kebutuhan terhadap kualitas pendidikan profesi dokter tanaman seperti Kementerian Pertanian, Balai Karantina Pertanian, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Balai Penelitian Tanah, Balai Penelitian padi, Dinas Pertanian provinsi hingga kabupaten, Balai Proteksi Tanaman, Dinas Perkebunan, Perum Bulog, PT  Perkebunan Nusantara,  PT Inhutani, dan lainnya.

Pihak swasta juga dapat diharapkan dapat memberikan jawaban peningkatan kompetensi dokter tanaman profesional seperti perusahaan-perusahaan swasta besar yang ada di tiap daerah.

Saatnya kontribusi banyak pihak diperlukan untuk melahirkan Pendidikan Profesi Dokter Tanaman yang hebat. Kita berharap kedaulatan pangan jangan sampai terabaikan karena usaha peningkatan produksi gagal. Pertanian hebat negara kuat berdaulat. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Iyyaka Na’budu

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved