Fikrah
Merasa Melihat Allah
LAFAZ Allah berasal dan akar kata ilah, artinya apa saja yang dijadikan sesembahan atau yang dipertuhankan. Kata jamaknya adalah alihah.
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel
LAFAZ Allah berasal dan akar kata ilah, artinya apa saja yang dijadikan sesembahan atau yang dipertuhankan. Kata jamaknya adalah alihah.
Kemudian akar kata ini ditambah dengan huruf alif dan lam makrifah; menjadi al-ilah. Selanjutnya huruf hamzah dihapus dan huruf lam yang pertama di masukkan kepada huruf lam yang kedua (idgham), maka menjadi Allah.
Allah adalah nama zat wajib Al-Wujud; merupakan nama universal bagi Tuhan seluruh manusia di muka bumi ini. Allah adalah dekat sebagaimana disebutkan di dalam Al Qur’an: “… dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS.Qaaf. 16).
Cobalah anda tarik nafas dan kemudian anda turunkan. Sadarkah anda? Jika di bunyikan dalam bentuk suara maka ia akan berbunyi Allah. Bunyi Al ketika nafas ditarik dan bunyi lah ketika nafas diturunkan.
Baca juga: Berawal dari Argentina
Baca juga: Pilgub Kalsel 2024, Paslon Acil Odah-Rozanie Mulai Jalani Tes Kesehatan
Lafaz Allah jika ditulis dalam tulisan huruf hijaiyah, huruf apapun yang dihapus, maknanya akan tetap kembali kepada-Nya. Hapuslah huruf alif; maka akan berbunyi Lillah, yang artinya untuk/karena Allah. Hapuslah huruf lam pertama, maka akan berbunyi Lahu, yang artinya bagi Allah. Hapuslah huruf lam yang kedua, akan tersisa huruf Ha. Jika huruf ini dibaca secara sukun, akan berbunyi Ah. Inilah bunyi ringisan semua manusia di muka bumi ini, apakah ia orang beriman atau tidak, apakah ia kenal kepada Allah atau tidak, mulutnya mesti mengucapkan kata itu.
Pandanglah dua telapak tangan anda! di sebelah kanan kelihatan angka Arab 1 dan 8, jika dijumlahkan sama dengan 9. Di sebelah kiri kelihatan lukisan angka 8 dan 1 jika dijumlahkan juga menjadi 9.
Apa artinya semua ini? Hal ini adalah isyarat bahwa kedua tangan anda itu diciptakan oleh zat wajib al-Wujud yang memiliki sembilan puluh sembilan nama. Nama tersebut menunjukkan sifat-sifatnya yang baik sehingga disebut al-Asma al-Husna.
Balik telapak tangan anda! baik sebelah kanan ataupun sebelah kiri, akan nampak jari-jari anda itu melukiskan lafz al-Jalalah “Allah” yaitu alif, lam (pertama), lam (kedua) dan huruf ha. Oleh karenanya hati-hatilah menggunakan tangan; apakah digunakan untuk sesuatu yang diridai Allah SWT atau sebaliknya. Di akhirat nanti ia akan berbicara, disaksikan pula oleh kedua kaki, seperti difirmankan Allah. “Pada hari ini kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada kami tangan mereka, dan kakipun memberikan kesaksiannya tentang apa yang mereka kerjakan”, (QS. Yaasin 65). Pernahkah anda memerhatikan gambar otak? jika diperhatikan, ternyata otak manusia itu ditaruh di dalam tengkorak kepala seperti seseorang yang sedang sujud dalam salat. Dengan demikan dapat dikatakan tubuh manusia tunduk kepada Tuhan penciptanya, namun banyak yang tidak menyadarinya.
“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) siapapun yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa; dan (sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari,” (QS. Ar Ra-ad ayat 15).
Memang diri dan jiwa kita ber-Tuhankan (Allah ). Bacalah Al Qur’an Surah Al A’raf ayat 172 :
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. Pandanglah alam semesta! Untuk apa diciptakan? Ia ciptakan untuk menunjukkan akan kebesaran Allah.
Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (QS. Ar Ra’du ayat 2).
Mampukah anda menyaksikan alam semesta merasa melihat Allah? Bila tidak, mampukah anda merasakan bahwa anda selalu dilihat Allah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-lc-ketua-mui-kalsel.jpg)