Fikrah
Ulama Sederhana dan Santun
PAGI Sabtu, 21 September 2024. Saya dan isteri bergegas menaiki mobil, menuju Kampus 2 UIN Antasari di Banjarbaru untuk melaksanakan wisuda.
Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
PAGI Sabtu, 21 September 2024. Saya dan isteri bergegas menaiki mobil, menuju Kampus 2 UIN Antasari di Banjarbaru untuk melaksanakan wisuda. Dalam perjalanan, isteri membuka ponselnya dan menemukan berita duka. Pak Murjani Sani meninggal dunia pada Jumat malam (20-09-2024). Andai kami mengetahui lebih awal, kiranya masih sempat bertakziah pagi itu. Namun apa mau dikata, waktu sudah mepet. Wisuda dimulai 08.30, dan dilaksanakan dua sesi hingga 16.00 sore.
Saya mula-mula mengenal Pak Murjani Sani pada 1989. Setelah tamat dari Pesantren Al-Falah, untuk penyetaraan dengan sekolah negeri, saya melanjutkan ke Madrasah Aliyah Al-Istiqamah Banjarmasin. Saya diterima di kelas 3. Sejak itulah saya berguru dengan Pak Murjani. Pada 1990-1994, ketika kuliah di Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari, saya juga bertemu dan belajar dengannya. Pada 2013, ketika saya dan isteri mau pergi haji, kami kembali berguru, belajar manasik haji dengan beliau.
Pada 1989-1990, ketika saya belajar di al-Istiqamah, pesantren/madrasah ini baru berkembang dan masih sederhana. Gedung kelasnya dari kayu yang sederhana pula. Namun, suasananya tidak jauh dari nuansa pesantren. Pada saat itu Pak Murjani menjabat sebagai Sekretaris Umum Ponpes Al-Istiqamah (1986-1995), mendampingi Pak Hafizh Anshari sebagai Ketua Umum. Kala itu, sebagian santri/siswa ada yang tinggal di asrama, tetapi mayoritas pulang-pergi dari rumah.
Pak Murjani selalu tampil dengan gayanya yang khas. Dari rumahnya di Pekapuran Raya, dekat dengan lokasi Pesantren Al-Istiqamah, pagi-pagi beliau datang mengendarai Vespa, memakai sarung dan peci. Beliau tampaknya senang sekali naik Vespa. “Maklum, terbiasa menaiki yang besar-besar,” katanya bercanda suatu hari. Beliau tampaknya sengaja memakai sarung sebagai gaya berpakaian santri, meskipun kami para siswa Aliyah waktu itu umumnya memakai celana panjang.
Baca juga: KPU Banjarbaru Resmi Tetapkan Aditya-Said Abdullah dan Lisa-Wartono Sebagai Paslon Pilkada 2024
Baca juga: Anggota Satpol PP Ringkus Pembegal Pegawai Apotek, Pelaku Sempat Minta Cium Korban
Pak Murjani mengajari kami ilmu tauhid/ kalam/ teologi Islam. Suaranya pelan dan lembut. Mula-mula agak samar, tetapi semakin lama semakin lantang. Ia menulis topik pelajaran di papan tulis, lalu mendikte beberapa kalimat penting sebagai penjelasan ringkas dan padat atas topik tersebut. Beliau tidak menggunakan buku ajar yang beredar di pasaran, tetapi membuat catatan sendiri, yang kemudian didiktekannya kepada kami. Catatannya itu ditulis tangan, tidak diketik.
Ketika saya kuliah dan berguru lagi dengan beliau, pelajarannya kurang lebih sama, yaitu ilmu tauhid alias teologi Islam. Namun kali ini Pak Murjani menggunakan metode yang berbeda. Ia mewajibkan mahasiswa membaca buku-buku referensi dan menulis makalah. Ia menggabungkan metode ceramah dan diskusi. Selain itu, Pak Murjani menugaskan kami menelaah kitab-kitab ilmu tauhid yang beredar dan diajarkan di masyarakat, terutama yang menggunakan Arab-Melayu.
Metode mengajarnya yang berbeda di tingkat pendidikan yang berbeda itu, menunjukkan bahwa beliau seorang guru-pendidik yang kompeten. Metode mengajarnya juga akan berbeda lagi jika kita memerhatikan ceramah-ceramahnya, baik yang tatap muka ataupun melalui media elektronik. Entah berapa majelis taklim yang beliau isi setiap minggu. Belum lagi ceramah bulan Maulid, Rajab hingga Ramadan. Begitu pula khotbah, baik khotbah Jumat ataupun khotbah Idul Fitri dan Idul Adha.
Selain aktif mengajar, Pak Murjani juga seorang penulis produktif. Pada awal 1990-an, Pak Murjani rutin menulis di Banjarmasin Post. “Kamu ini sudah menjadi khatib di koran,” kata almarhum ayah saya menggodanya. Tidak banyak penceramah agama yang pandai menulis seperti Pak Murjani. Kelak beliau juga menulis di Serambi Ummah, Kalimantan Post dan Media Kalimantan. Beliau menulis dari zaman mesin ketik hingga era komputer. Tulisannya runtut dan sistematis seputar isu-isu keislaman.
Setiap orang yang mengenal Pak Murjani kiranya hampir pasti akan menilai, beliau adalah sosok yang sederhana, santun dan rendah hati. Ketika terjadi perbedaan pendapat, dia memang tidak mudah goyah, namun caranya berargumen tetap santun. Ketika pada 2008 silam, saya menerbitkan buku dengan judul agak lain: “Mengindonesiakan Islam”, beliau turut membeli dan membacanya. Sebagai akademisi, beliau terbuka kepada gagasan-gagasan baru, tetapi tidak otomatis menerimanya.
Selain itu, Pak Murjani juga seorang administrator dan aktif berorganisasi. Di Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari beliau pernah dipercaya menjadi Ketua Jurusan Tafsir Hadis (1994-1998) dan Wakil Dekan (2000-2004). Di luar kampus, beliau pernah menjabat sebagai Katib Syuriah PWNU (2002-2007) dan Wakil Ketua Syuriah PWNU (2007-2012), Ketua Badan Amil Zakat Kota Banjarmasin dua periode (2005-2011), dan Ketua Umum MUI Kota Banjarmasin, tiga periode (2007-2022).
Suatu hari pada 2019, saat apel bersama di UIN Antasari, saya diminta menyerahkan piagam penghormatan kepada beliau, menandai masa pensiunnya sebagai dosen. Ada rasa haru yang sulit dilukiskan ketika saya, muridnya ini, menyerahkan piagam itu sebagai rektor. Demikinalah, Pak Murjani telah menuntaskan tugasnya di kampus sebagai akademisi-pendidik dengan sangat baik. Begitu pula wafatnya pada Jumat lalu, menandai akhir pengabdiannya sebagai ulama di masyarakat.
Lahir di Tantaringin, Kelua, pada 20 April 1954 dan wafat di Banjarmasin, pada 20 September 2024, terdidik sebagai santri di Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai, lalu kuliah di IAIN Antasari hingga S-2, Pak Murjani Sani merupakan sosok ulama tradisional yang berwawasan modern. Banyaknya doa yang dipanjatkan untuknya, termasuk oleh seluruh wisudawan/ti pada Sabtu lalu, menunjukkan bahwa kehadiran beliau memberi arti mendalam bagi banyak orang. Selamat jalan Guru kami! (*)
PAGI Sabtu, 21 September 2024. Saya dan isteri bergegas menaiki mobil, menuju Kampus 2 UIN Antasari di Banjarbaru untuk melaksanakan wisuda. Dalam perjalanan, isteri membuka ponselnya dan menemukan berita duka. Pak Murjani Sani meninggal dunia pada Jumat malam (20-09-2024).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-UIN-Antasari.jpg)