Opini Publik

Refleksi Hari Santri 2024,  Para Santri di Kabinet Merah Putih

Ada pemandangan menarik dari 48 orang menteri Prabowo dalam Kabinet Merah Putih, ada beberapa menteri yang pernah nyantri, alias menjadi santri

Editor: Hari Widodo
Dokumentasi Banjarmasinpost.co.id
Muh. Fajaruddin Atsnan, Dosen UIN Antasari Banjarmasin 

Oleh: Muh Fajaruddin Atsnan, Dosen UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - TANGGAL 20 Oktober 2024 kemarin, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029, menggantikan Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin.

Teriring ucapan selamat kepada Pak Prabowo dan Mas Gibran, semoga bisa menjalankan amanah dengan baik, serta terima kasih Pak Jokowi dan Kyai Ma’ruf Amin atas dedikasinya untuk negara lima tahun ini. 

Harapan rakyat terhadap Prabowo sebagai panglima tertinggi kepala pemerintahan sekaligus kepala negara tidaklah muluk-muluk, manakala ditautkan dengan sumpah saat dilantik, yaitu pemimpin yang taat pada konstitusi, UUD 1945 dan Pancasila. 

Di sanalah semua hak-hak dasar rakyat, masyarakat sebagai warga negara Indonesia termuat jelas dari kelayakan mendapatkan pekerjaan dan penghidupan, keadilan dan kesetaraan di mata hukum, mendapat akses pendidikan beserta fasilitasnya yang memadai, hingga penggunaan sumber-sumber daya alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bukan hanya penguasa.

 Jika hak-hak konstitusi rakyat yang termaktub dalam UUD 1945 dapat ditunaikan dan dipenuhi oleh Prabowo sebagai Presiden ke-8 Republik Indonesia sejak dini pascadilantik, maka rakyat patut optimistis untuk kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik, lewat Kabinet Merah Putih.

Santri Jadi Menteri

Ada pemandangan menarik dari 48 orang menteri Prabowo dalam Kabinet Merah Putih, ada beberapa menteri yang pernah nyantri, alias menjadi santri, baik yang saat ini membawa ormas sebesar Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, atau yang tidak lagi berada di lingkaran kepengurusan dua ormas tersebut, tetapi menjadi ketua partai politik. Tak tanggung-tanggung, menteri-menteri santri dari NU maupun Muhammadiyah ditugasi Prabowo untuk mengisi pos-pos strategis. 

Pertama, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menjadi Menteri Pendidikan, Dasar, dan Menengah. Sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah saat ini, Abdul Mu’ti memang memiliki track record mentereng di dunia pendidikan, setelah sebelumnya menjadi Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) periode 2019-2023. Artinya memang orang terdidik,orang berpendidikan yang dipercaya Prabowo mengisi pos pendidikan dasar dan menengah yang menjadi fondasi awal pendidikan yang berkualitas dan memperjelas arah pendidikan nasional kita.

Kedua, Prof KH Nassruddin Umar sebagai Menteri Agama. Seorang tokoh NU yang dikenal di Indonesia, terutama dalam bidang agama dan pendidikan. Seorang ulama dan cendekiawan muslim yang memiliki pemikiran moderat, memiliki latar belakang yang kuat dalam pendidikan Islam, serta aktif dalam pengembangan pendidikan keagamaan yang inklusif. 

Ketiga, H Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai Menteri Sosial. Sebagai Sekjen PBNU saat ini, dia berasal dari keluarga pesantren dan memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, termasuk di bidang agama. Gus Ipul aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, memperjuangkan nilai-nilai moderasi dan toleransi antarumat beragam.  Sebagai pemimpin, ia dikenal dekat dengan masyarakat, sering terjun langsung untuk mendengarkan aspirasi dan masalah yang dihadapi warga.

Keempat, Arifah Choiri Fauzi sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Ia sosok yang kini menjadi Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU. Arifah adalah seorang tokoh muda Indonesia yang dikenal dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, sosial, dan politik. Ia memiliki background pendidikan yang kuat dan aktif dalam organisasi mahasiswa selama masa studinya, yang membentuk kepemimpinannya.

Ia juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, berfokus pada isu-isu pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan pengembangan komunitas.

Kelima, Erick Thohir sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sosok yang tenar di kalangan penikmat bola, sesungguhnya juga seorang santri. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Erick Thohir pernah menempuh pendidikan di beberapa pesantren, di mana ia belajar tentang nilai-nilai agama dan budaya Islam.

Pengalaman inilah yang akhirnya membentuk karakternya dan prinsip-prinsip dalam hidupnya. Posisi Erick Thohir yang tetap di BUMN sejatinya menjadi ajang pembuktian mampukah BUMN tetap menjadi Badan Usaha Milik Negara dan bukan sebaliknya Beban Utang Milik Negara alias boncos?.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved