Breaking News

Kolom

Haul Juga tentang Kita

Baru-baru ini Muhammad Bulkini membikin buku berjudul Canda Abah Guru Yang Mungkin Menusuk Hatimu, isinya tentang humor Guru Sekumpul

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Irfani Rahman
Foto Ist
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin 

Jendela
Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sabtu lalu, Muhammad Bulkini menghadiahi saya buku terbarunya berjudul Canda Abah Guru Yang Mungkin Menusuk Hatimu. Buku ini menghadirkan humor-humor Tuan Guru Haji Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (1942-2005) atau “Guru Sekumpul”.

Saya menikmati buku tipis ini sampai habis. Sebagian humor itu pernah saya dengar langsung saat mengikuti pengajian beliau, sebagian lagi tidak.

Meski sedikit mengurangi rasa lucunya, agar menjangkau pembaca yang lebih luas, Bulkini menerjemahkan canda-canda itu dari bahasa Banjar ke bahasa Indonesia.

Di antara semua canda itu, yang mengesankan saya adalah humor terakhir, yang ke-37. Dalam satu momen pengajian, ketika Guru Sekumpul sudah sakit-sakitan, beliau berkata, “Nanti kalau aku meninggal dunia, kantor, bank, sekolah, madrasah, semua akan tutup.”

Semua jemaah hening, mungkin membayangkan, bagaimana nanti jika ulama yang mereka cintai itu sudah tiada. Sejurus kemudian, Guru Sekumpul menyambung kalimatnya, “Itu kalau aku meninggal di hari Ahad, hari libur.” Jemaah yang semula hening dan tegang, sontak tertawa lepas!

Usai tertawa bahagia, jemaah pengajian mungkin sudah lupa dengan canda itu hingga tiba waktunya Guru Sekumpul wafat. Hari itu bukan Ahad, tetapi Rabu, 10 Agustus 2005. Kepergiannya benar-benar membuat suasana duka mendalam.

Secara resmi, kantor pemerintah, bank dan sekolah memang tidak libur, tetapi orang berduyun-duyun datang ikut menyalatkan dan mengantarkan beliau hingga prosesi penguburan. Setelah itu, dari tahun ke tahun, jumlah orang yang datang memperingati hari wafatnya (yang disebut ‘haul’) terus bertambah hingga mencapai jutaan orang.

Tak dapat disangkal, gairah massa yang tumpah-ruah saat haul Guru Sekumpul itu adalah karena kecintaan mereka kepadanya. Mereka rindu wajahnya, suaranya, candanya, dan nasihatnya. Namun, jika kita dalami lebih jauh, haul ini kiranya tidak hanya tentang beliau, tetapi juga dan terutama tentang diri kita dan masyarakat kita sendiri.

Ketika kita menangisi kematian guru kita, orangtua kita, atau siapa pun yang kita cintai, sebenarnya bukan karena kita kasihan pada dia yang telah wafat, tetapi justru pada diri kita sendiri yang merasa tak kuat menjalani hidup tanpa kehadirannya.

Jika pandangan tersebut dapat kita terima, mungkin haul yang besar dan mengharukan setiap tahun ini sebaiknya juga dijadikan introspeksi, untuk menilai baik-buruk yang terjadi, yang kita hadapi sebagai pribadi dan masyarakat.

Apa kiranya yang dipikirkan dan dibayangkan oleh jemaah, ketika mereka dengan penuh semangat dan tulus, mau berkorban waktu, tenaga dan uang untuk hadir dalam ritual tahunan ini? Apa saja kekecewaan sosial, ekonomi, budaya, bahkan politik, yang mungkin membebani masyarakat, yang seolah terbalaskan melalui haul ini, meski hanya sesaat?

Dari perbincangan di pinggiran dengan jemaah haul, salah satu yang sering kita dengar adalah bahwa mereka yakin Guru Sekumpul adalah seorang wali, kekasih Allah, yang melaluinya kebaikan yang berlimpah dapat mengalir kepada orang lain.

Sebagai kekasih Allah, Guru Sekumpul mencerminkan citra seorang ulama yang berilmu luas dan berakhlak mulia. Dalam dirinya ada cinta yang tulus pada sesama. Yang miskin diberinya uang. Yang gersang hatinya, disiraminya dengan nasihat yang sejuk. Yang sedih, dihiburnya dengan canda dan suaranya yang merdu. Yang zalim, ditegurnya dengan bijak.

Citra Guru Sekumpul di atas amat kuat tertanam dalam diri sebagian besar jemaah. Citra itu adalah pantulan dari kerinduan kita yang tak pernah habis akan potensi kebaikan yang dimiliki manusia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved