Fikrah

Bulan Mikraj

Adalah peristiwa Isra dan Mikraj ini terjadi pada tahun 621 M, Isra berarti perjalanan di waktu malam, sedang Mikraj berarti tangga.

Editor: Irfani Rahman
istimewa
KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - Peristiwa Isra dan Mikraj ini terjadi pada tahun 621 M atau tahun ke 11 sesudah kenabian.  Menurut Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra, 18 bulan sesudah peristiwa itu beliau hijrah ke Medinah.

Isra berarti perjalanan di waktu malam, sedang Mikraj berarti tangga. Dimaksudkan dengan Isra di sini ialah adalah diperjalankannya Rasulullah SAW dari masjid Al-Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsa di Palestina untuk diperlihatkan kepada beliau tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Adapun Mikraj adalah peristiwa sesudahnya yaitu dinaikkannya ke langit sampai kepada Sidratil Muntaha, suatu tingkatan dimana jin dan manusia bahkan malaikat sekalipun tidak bisa menembusnya. Semua itu terjadi di satu malam saja memakan waktu kira-kira sepertiga malam.

Terjadinya Isra diabadikan oleh Allah SWT di dalam surah Al-Isra ayat 1, dan Mikraj diisyaratkan di dalam surah An-Najm ayat 13 s/d 18. Adapun hadits-hadits yang berbicara tentang Isra dan Mikraj bervariasi, ada yang sahih, hasan, dan dhaif, bahkan maudhu’.

DR Abdul Halim Mahmud dalam bukunya Al-Isra wa al-Mi’raj mengemukakan ada 19 buah hadits. DR Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi dalam bukunya Fiqh As-Sirah menandaskan bahwa hanya riwayat Bukhari dan Muslim yang dapat diperpegangi, menurutnya riwayat yang disandarkan kepada Ibnu Abbas tidak luput dari kekeliruan.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyimpulkan ada lima poin yang sama disebutkan baik didalam hadits shahih, hasan atau dhaif, yaitu : 1. bahwa Nabi SAW diisrakan dari Makkah ke Al-Bait Al-Maqdis; 2. di Bait Al-Maqdis beliau salat dua rakaat; 3. kemudian beliau dinaikkan ke langit; 4. Kepada beliau difardhukan salat lima puluh waktu yang kemudian diringankan menjadi lima waktu sebagai rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada para hamba-Nya. Menurutnya  sekadar inilah yang diharuskan kepada seorang muslim untuk mempercainya.

DR. Ahmad Syalabi dalam bukunya At-Tarikh Al-Islami wa Al-Hadarah Al-Islamiyah menandaskan seorang muslim hendaknya mengimani Isra dan Mikraj secara global seperti tersebut di dalam Al-Qur’an tanpa harus merinci secara detail.

Syekh Muhammad Al-Gazali dalam Fiqh As-Sirah mengemukakan bahwa Isra dan Mikraj adalah peristiwa yang penuh dengan simbol (rumz) dimaksudkan untuk menampakkan ayat-ayat (tanda kebesaran) Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW; pembedahan dada, penyucian hati, diisinya hati dengan iman, dan lain-lain semata simbol menunjukkan keharusan persiapan diri dalam perjalanan menuju hadrat Allah SWT.

DR. Abdul Halim Mahmud mengemukakan, Isra dan Mi’raj adalah ilustrasi sket kehidupan manusia muslim menuju hadrat Allah SWT. Pembedahan dada adalah langkah pertama menuju Allah SWT, tak lain adalah taubat. Sedangkan tujuan akhir adalah Allah SWT (ridhaNya). Antara taubat sebagai start perjalanan, dan ridha Allah SWT sebagai final goal adalah perjuangan atau jihad.

Senada dengan ini, Syah Waliyullah Ad-Dahlawi dalam bukunya Hujjatullah Al-Balighah mengemukakan agar umat Islam memahami tamsil (perumpamaan) yang terjadi terhadap kedua peristiwa ini, bukan hanya membaca literlik peristiwa itu secara materi.

Lewat Isra dan Mi’raj, kepada Nabi Muhammad SAW diperlihatkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT, sedangkan kepada kita umatnya ditunjukkan hikmah yang terjadi didalamnya.

Lewat Isra dan Mikraj kepada kita diingatkan adanya kehidupan lain sesudah kehidupan sekarang, yaitu kehidupan akhirat. Akhirat adalah kehidupan hakiki, sedangkan kehidupan sekarang adalah kehidupan sementara, itulah dunia  sebagai lahan untuk membuat bekal hidup di akhirat. Berhati-hatilah dalam menggeluti kehidupan dunia, karena akibatnya akan dipetik di akhirat. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved