Fikrah

Masa Jahiliyah

Nabi Muhammad SAW dilahirkan dan dibangkitkan dikenal dengan masa Jahiliyah. arti jahilliyah? Secara harfiah “jahl”, artinya bodoh, tidak tahu

Editor: Irfani Rahman
istimewa
KH HUSIN NAFARIN - KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel 

KH Husin Naparin Lc MA

Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - MASA dimana Nabi Muhammad SAW dilahirkan dan dibangkitkan dikenal dengan masa Jahiliyah. Apa artinya jahilliyah? Secara harfiah “jahiliyah” berasal dari kata “jahl”, artinya bodoh, tidak tahu, tidak terpelajar, dungu dan tolol. 

Terpengaruh dengan pengertian ini, timbullah image bahwa pantas Muhammad SAW berhasil sukses dalam dakwahnya, karena hanya berhadapan dengan orang-orang yang tidak terpelajar, berbeda dengan Nabi Musa as, menghadapi masyarakat yang sudah maju; terutama dengan kepandaian membuat sihir; dan Nabi Isa as menghadapi orang-orang yang sudah modern dengan kepandaian mengobati orang sakit.

Asumsi yang demikian tidak benar, karena orang-orang Arab pada masa itu bukanlah orang-orang yang bodoh dan dungu atau tidak punya peradaban. Orang-orang Arab pada masa itu telah mengadakan perjalanan dagang ke Utara (Syam, Syria sekarang) pada musim panas, dan ke sebelah Selatan (Yaman) pada musim dingin (ingat surah Quraisy ayat 1 dan 2). Orang-orang Arab telah pula mengadakan pengembaraan sampai ke negeri Cina (Kanton) sejak abad ke 4 M.

Ingat pula hadits Nabi saw yang menyuruh menuntut ilmu kendati sampai ke negeri Cina (Uthlubul-ilma walau-bish-shiin; kitab al Jami al Shagir, Juz 1 / hal., 4). Mustahil mereka yang bepergian ke luar negeri kalau tidak membawa pengaruh ke dalam negerinya (akulturasi).

Memang waktu itu buta huruf merebak dimana-mana, namun bukan berarti tidak ada orang yang pandai menulis, Nabi saw mempunyai para sekretaris penulis wahyu, seperti Ali, Utsman, Ubay, Zaid dan Mu’awiyah.

Orang-orang Arab mahir bersyair; selalu diadakan festival tahunan bertanding kepandaian menyusun syair; yang dikenal dengan “Suoq Ukkaaz”. Syair yang terbaik ditulis dan dipublikasikan di samping Ka’bah, sehingga terkenal al Mu’allaqat al Sab’ah, karya tujuh penyair yaitu Imru’ul Qiis, Tharafah, Zuhair bin Abi Sulma, Labid, Amru ibnu Kaltsum, Antarah dan al Harts.

Ada kebiasaan orang-orang Makkah untuk menyusukan anak bayi ke desa (badwi) sampai berakhir masa kanak-kanaknya, dimaksudkan agar anak mereka tumbuh sempurna dengan bahasa Arab asli dan tidak terkontaminasi dengan budaya asing.

Dengan beberapa fakta ini tahulah kita bahwa pada masa Nabi Muhammad saw dibangkitkan, tanah Arab bukanlah kawasan terisolir dari dunia luar atau daerah yang tidak terjamah peradaban dan kemajuan; malah Makkah dijuluki dengan Ummu al Quraa, artinya ibu negeri (ibu kota), dan orang-orang Arab bukanlah orang yang tidak punya peradaban.

Apa makna masa jahillyah? Jahiliyah adalah kondisi manusia pada masa sebelum Nabi Muhammad s.a.w dibangkitkan (Farid Wajdi dalam Enseklopedi abad 20). Jahiliyah bukanlah terambil dari kata jahl yang berarti dungu sebagai kebalikan dari ‘ilm (berpengetahuan), tetapi jahl dengan pengertian tidak bermoral, sesat, berang dan penumpah darah; kebalikan dari kata “Islam” yang berarti tunduk dan patuh terhadap ajaran Allah SWT. Jadi jahiliyah adalah suatu tatanan masyarakat yang tidak bertuhankan Allah; kondisi yang demikian tidak hanya terjadi pada masa sebelum Nabi Muhammad saw dilahirkan, tetapi bisa terjadi kapan saja kendati pada zaman modern sekarang ini.

Ada tiga ciri khas masyarakat jahiliyah yaitu hidup bermabuk-mabukan dengan berbagai macam minuman keras dan memabukkan; memperlakukan wanita tidak pada proporsi yang sebenarnya/bertindak semena-mena; hidup dalam perjudian; ditambah dengan penyembahan berhala. (Syauqi Dhaif dalam al ‘Ashr al Jahili, hal. 39 & 70).

Kini, kita hidup dalam dunia modern dan penuh peradaban. Tetapi bila beberapa ciri kejahiliyahan tersebut kita biarkan di sekitar kehidupan kita, berarti kita hidup di alam jahiliyah. Oleh sebab itu bisa saja seseorang mengaku “muslim”, tetapi pakaiannya pakaian jahiliyah, perilakunya perilaku jahiliyah; dan suatu masyarakat bisa saja mengklaim sebagai “masyarakat muslim”, tetapi tatanan kehidupannya tatanan kehidupan jahiliyah. (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved