Fikrah

Parsel

KATA “parsel” berasal dari bahasa Inggris, artinya bingkisan, bungkusan, paket. Ia berupa pemberian dari seseorang kepada orang lainnya

Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel. 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - KATA “parsel” berasal dari bahasa Inggris, artinya bingkisan, bungkusan, paket. Ia berupa pemberian dari seseorang kepada orang lainnya. Saling memberi pada dasarnya dianjurkan oleh agama (Islam).

 Inilah yang disebut dengan “hadiah”. Nabi SAW berasabda yang artinya: “Saling memberi hadiahlah diantara kalian sehingga tumbuh rasa saling mencintai; dan saling berjabat tanganlah antar kalian, sehingga menghapuskan kebencian”. (HR. Ibnu Asakir dari Abu Hurairah)

Memberi hadiah lebih dianjurkan kepada seseorang yang datang dari bepergian untuk orang yang tidak bepergian (mukim), disebut hadiyatul musafir. Inilah yang diistilahkan dengan suvenir, tanda mata atau oleh-oleh.

Apabila bingkisan itu diberikan dalam rangka berhari raya (Idulfitri) disebut “paket lebaran”, dan apabila diberikan dalam kesempatan lain secara umum disebut kado, umpamanya pernikahan, khitanan atau kelahiran.

Jika boleh mengkritisi tentang paket lebaran, diantaranya mengandung unsur konsumerisme yang seringkali berisi barang-barang yang tidak penting dan hanya memuaskan keinginan konsumtif.

Kedua, tidak sesuai dengan semangat lebaran yang seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi, memohon maaf, dan meningkatkan ibadah. Namun, paket lebaran seringkali membuat orang lebih fokus pada materi daripada nilai-nilai spiritual.

Ketiga, mengabaikan nilai-nilai zakat dan sedekah sebagai cara untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Paket lebaran seringkali membuat orang lebih fokus pada memberikan hadiah kepada orang-orang yang sudah berkecukupan.

Keempat, membuat orang menjadi terlalu bergantung pada materi dan lupa bahwa kebahagiaan sejati datang dari hubungan dengan Allah SWT dan orang-orang di sekitar kita.

Kelima, parsel seringkali digunakan sebagai ajang untuk memamerkan kekayaan dan status sosial, yang bertentangan dengan nilai-nilai kesederhanaan dan kebersahajaan dalam Islam.

Keenam, seringkali membuat orang menjadi terlalu boros dan berutang untuk membeli hadiah, yang dapat menyebabkan masalah keuangan dan utang.

Hanya demi memuaskan segelintir orang. Dengan demikian, penting bagi kita untuk merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam parsel dan memastikan bahwa kita tidak kehilangan esensi sebenarnya dari lebaran.

Terakhir ramai dibicarakan tentang paket lebaran (parsel) yang dikaitkan dengan moral bangsa. Mengapa ? Karena diantara parsel tersebut sudah tidak murni lagi untuk silaturrahmi, tetapi dijadikan sebagai ajang kalangan tertentu untuk kepentingan tertentu yang diberikan kepada orang tertentu. Katakanlah ada udang di balik batu.

Pemberian tersebut diberikan untuk mencari muka, politis atau keinginan lainnya. Hal ini dikhawatirkan akan memengaruhi yang bersangkutan dalam mengambil keputusan.

Gara-gara merasa telah menerima parsel, maka timbul perasaan ingin balas jasa dengan memberikan kebijakan yang tidak adil dan tidak objektif lagi, malah menguntungkan si pemberi parsel. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved