Tajuk
Ketika Umar Dikritik
GELOMBANG demonstrasi sepertinya masih bakal terjadi mengkritisi sikap anggota DPR RI. Seperti di Kalimantan Selatan, rencana aksi
GELOMBANG demonstrasi sepertinya masih bakal terjadi mengkritisi sikap anggota DPR RI. Seperti di Kalimantan Selatan, rencana aksi unjuk rasa digelar Aliansi Kalsel Melawan pada Senin (1/9/2025) di depan Gedung DPRD Kalimantan Selatan.
Menyalurkan aspirasi dan mengkritisi pemimpin memang menjadi hak rakyat. Asalkan, cara menyalurkannya sesuai dengan ketentuan dan tak berujung anarkis. Dalam Islam pun, tak dilarang mengkritisi kebijakan pemimpin yang melakukan kekeliruan. Bahkan, sekelas Umar Bin Khattab pun pernah mendapat kritik atas kebijakannya oleh seorang perempuan.
Kisahnya shohih diriwayatkan Abu Dawud 2106, Nasai 2/87, Timidzi 1/208, Ibnu Hibban 1259, ad-Darimi 2/141, al-Hakim 2/175, al-Baihaqi 7/234, Ahmad 1/40-48, al-Humaidi 23 dari jalur Muhammad bin Sirin dari Abu ‘Ajfa’ dari Umar. Hadits ini dishohihkan oleh Tirmidzi, al-Hakim dan disetujui adz-Dzahabi.
Memang, setelah mendapatkan hidayah, dalam perjalanan ‘karir’ hidupnya, Umar menjadi satu di antara empat khalifah mulia menggantikan Abu Bakar Ash Shiddiq. Setelah dibaiat, Umar bin Khattab semakin tegas dan keras terhadap siapa pun dari umatnya yang melakukan kemaksiatan dan dosa. Tidak perduli apakah yang berbuat kesalahan itu anak pejabat, rakyat jelata bahkan darah dagingnya sendiri.
Baca juga: Mahasiswa Tanahlaut Berencana Gabung Aksi di Banjarmasin, Ini Imbauan MUI
Baca juga: Kita dan Affan
Namun, kebijakannya tak selalu diterima rakyatnya, bahkan sempat mendapat kritik. Nah, sahabat Nabi Muhammad SAW yang berkapasitas sebagai mujtahid ini suatu ketika berpidato di atas mimbar. Setelah memuji Allah, dia lantas melarang orangtua atau kaum wanita mempermahal mahar pernikahan bagi kaum pria.
Menurut Umar kala itu, mahalnya mahar pernikahan bukan tanda kemuliaan. Bahkan, katanya, Rasulullah tidak pernah memberikan mahar mahal kepada seorang pun istrinya dan tidak juga seorang putrinya diberi mahar lebih dari dua belas uqiyyah.
Namun, tak selang berapa lama Umar turun dari mimbarnya, tiba-tiba datang seorang wanita dari Quraisy. Tanpa basa basi wanita itu berkata: “Wahai pemimpin orang Mukmin. Apakah Kitab Allah yang lebih berhak kami ikuti ataukah ucapanmu?”
Umar lantas menjawab tegas jika Al-Qur’an yang lebih berhak diikuti. Umar pun bertanya mengapa perempuan itu menyentilnya. Sang perempuan lantas dengan tegas mengkritik soal larangan meminta mahar yang mahal itu. Dia lantas membacakan ayat Al-Qur’an surah An-nisa ayat 127 berbunyi: "Dan kalian telah memberikan pada salah satu wanita harta yang banyak sebagai mas kawin...”
Menerima kiritik dari perempuan Quraisy itu, Umar bin Khattab bukannya membalas refresif, tapi malah langsung menerimanya. Bahkan, sang Khalifah tidak merasa canggung, tidak malu, tidak gengsi menerima kiritik rakyatnya itu.
Umar merendah jika setiap orang lebih paham soal agama darinya. Ucapan itu dilontarkan Umar dan diulang-ulang dua tiga kali. Ia kembali naik ke atas mimbar lalu berkata, “Hadirin sekalian, aku telah melarang kalian memberi mahar lebih dari mahar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketahuilah bahwa aku cabut pernyataanku. Dan sekarang lakukanlah apa yang maslahat bagi kalian. Aku tidak membatasi. Selama tidak bertentangan dengan syariat”.
Sikap yang ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Khattab ini adalah sikap bijak seorang pemimpin yang berpegang teguh terhadap kebenaran. Khalifah Umar tanpa sungkan dan malu menerima pendapat sekaligus kritikan, masukan atau bahkan nasihat dari orang lain di muka umum.
Andai saja para pemimpin negeri ini mau belajar dari seorang Umar bin Khattab tentang bagaimana cara memimpin. Belajar bagaimana berjiwa besar saat menerima nasihat. Tegas saat melihat yang dipimpin melakukan dosa dan kemaksiatan, tentu akan lahir kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan ini. Namun, jika para pemimpin sudah tidak lagi bisa menerima kritikan, masukan bahkan nasihat, maka tunggulah perpecahan akan terjadi di mana-mana. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ratusan-massa-dari-berbagai-elemen-masyarakat-berkumpul.jpg)