Opini Publik

Hari Kebudayaan Nasional dan Urgensi Penguatan Budaya Digital

PADA tanggal 17 Oktober yang lalu, kita memperingati Hari Kebudayaan Nasional untuk pertama kalinya

Tayang:
Editor: Hari Widodo
Istimewa
Faisal Rahman, M.Pd, Dosen Universitas Sari Mulia dan Pegiat Literasi Digital 

 Literasi digital harus menjadi komponen di dalam pendidikan, diajarkan bukan sebagai mata pelajaran teknis, melainkan sebagai pendidikan karakter abad 21. Sekolah harus menjadi laboratorium tempat siswa belajar berdebat secara sehat, memverifikasi informasi, dan memahami dampak dari jejak digital mereka.

Selain itu, masyarakat sipil, tokoh agama, pegiat budaya, dan keluarga memiliki peran sentral dalam menanamkan nilai-nilai luhur dalam interaksi sehari-hari, baik luring maupun daring. Komunitas bisa menjadi “penjaga gawang” nilai-nilai lokal di tengah serbuan informasi global.

Pada akhirnya, budaya digital dibangun dari jutaan pilihan kecil yang kita buat setiap hari. Pilihan untuk tidak menyebarkan berita yang belum terverifikasi, pilihan untuk menggunakan bahasa yang santun meski berbeda pendapat, dan pilihan untuk mengapresiasi karya orang lain secara positif.

Maka, pada momentum Hari Kebudayaan Nasional ini, marilah kita merenung. Kebudayaan bukanlah artefak beku yang hanya bisa dipajang di museum.

 Ia adalah entitas hidup yang terus kita bentuk melalui setiap tindakan kita. Di era ini, setiap unggahan dan komentar kita adalah jejak digital yang merupakan “candi” dan “prasasti” yang akan merekam peradaban kita bagi generasi mendatang.

 Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa warisan digital yang kita tinggalkan adalah cerminan dari sebuah bangsa yang cerdas, beradab, dan ber-Bhinneka Tunggal Ika. (*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved