Jendela

Materialisme, Hukum Alam dan Moral

Selama 1990-2024, hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) yang terkena banjir hebat ( rata-rata hilang 36.305 hektare per tahun

Tayang:
Editor: Hari Widodo
Foto Ist
Mujiburrahman, Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari. 

Banyak pula orang yang mengaku beragama, bukan hanya tidak yakin dengan hal-hal yang gaib, tak kasat mata, melainkan juga tak yakin dengan apa yang bakal terjadi di masa depan jika manusia melanggar hukum alam, seperti merusak ekosistem, menggunduli hutan, memangkas gunung dan menggali bumi.

Secara ilmiah, yakni rasional dan empiris, sudah bisa diprediksi bahwa perusakan ekosistem akan menimbulkan bencana. Namun, mengapa manusia tak mau percaya? Tidak percaya pada apa yang bakal terjadi di masa depan sama artinya dengan tidak percaya pada yang gaib.

Demikianlah, akhirnya kita berjumpa dengan sebab-akibat dalam hukum alam dan hukum moral. Hukum alam adalah ciptaan dan kehendak Tuhan. Begitu pula, hukum moral adalah ciptaan dan kehendak Tuhan.  Melanggar hukum alam dan hukum moral, sama artinya dengan melawan Tuhan. Karena itu, tanggungjawab manusia adalah tunduk pada kedua hukum itu.

Menurut pemikir Islam Pakistan, Fazlur Rahman, ketundukan itulah yang disebut “Islam” dan manifestasinya dalam kehidupan sehari-hari disebut “ibadah”, yakni pengabdian kepada Allah.

Alhasil, sikap dan tindakan yang kita lakukan di dunia ini, akan menimbulkan akibat, baik berkenaan dengan hukum alam ataupun hukum moral.

Masalahnya, kadangkala kita memisahkan keduanya. Kita tunduk pada hukum alam dan menggunakannya, tetapi membangkang pada hukum moral. Lebih celaka lagi jika kita membangkang pada keduanya.

Bagi kaum beriman, pembangkangan itu akan melahirkan nestapa dan bencana di dunia ini dan kelak setelah mati.(*)

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved