Opini Publik
Menakar Kemitraan Dokter-Pasien
kedepan perlu dirumuskan suatu pola hubungan baru, yaitu pola kemitraan pasien dan dokter.
Bukan hal yang harus ditutup-tutupi dimana ada dokter yang berorientasi pada uang, bukan dokter yang tulus membantu menyembuhkan si sakit. Alasannya macam-macam. Pendidikan Kedokteran sekarang mahal dan lama.
Disorientasi dalam praktik seperti ini mengakibatkan tidak sedikit dokter senior menjadi sangat diminati pasien, sehingga mereka harus berpraktik sampai terkantuk-kantuk hingga dini hari.
Padahal dengan kelebihan pasien, bisa dirujuk atau didelegasikan kepada dokter lain. Karena bukan tidak mungkin kondisi ini malahan menyebabkan dokter tidak bisa bekerja maksimal dan mengecewakan pasien.
Ada pula, sebagian dokter yang gemar menggunakan peralatan kedokteran meskipun tidak pada tempatnya. Misalnya untuk mendiagnosa penyakit batuk pilek ringan saja, sang dokter harus melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap.
Keluhan pusing ditanggapi dengan perlunya pemeriksaan CT Scan. Disinilah pasien harus pintar memilih dokter.
Celakanya, situasi yang kacau seperti ini direspon pula oleh pengacara, dengan dalih melindungi hak pasien mereka . Asal tahu saja, tidak semua pengacara mampu memilah mana yang kesalahan dokter dengan mana yang kegagalan atau resiko medis.
Beberapa pengacara yang tidak memiliki etika dan sering membujuk pasien untuk mengajukan tuntutan kepada dokter, bahkan ada pula yang janji tanpa bayaran bila kliennya kalah dalam pengadilan.
Alhasil, banyak pasien yang mengajukan tuntutan hukum kepada dokter, sementara dipihak dokter tidak mau kalah, mereka bersikap defensif. Jadi tidak usah heran bila kini semakin banyak pasien yang lari berobat keluar negeri karena tak lagi mempercayai kompetensi dokter Indonesia.
Hubungan dokter-pasien seperti inilah akan membuat jarak psikologis antara dokter dan pasien. Seolah-olah ada dua belah pihak yang menandatangani kontrak perjanjian dimana pasien harus sembuh.
Dengan demikian terasa unsur bisnis yang kental. Akibat dari pola hubungan ini, membuat hubungan pasien dan dokter terganggu. Masyarakat akan mudah merasa tidak puas.
Untuk itu kedepan perlu dirumuskan suatu pola hubungan baru, yaitu pola kemitraan pasien dan dokter. Hubungan kemitraan yang dimaksudkan disini adalah upaya bersama antara dokter dan pasien dalam penyembuhan penyakit.
Sesungguhnya inilah hubungan ideal dokter dan pasien. Sebab dalam kondisi sakit, baik berat maupun ringan, baik sakit fisik maupun mental, seorang pasien pasti membutuhkan dokter.
Dilain pihak, jangan sampai anda sebagai pasien malah disalahgunakan oleh dokter yang tujuan utamanya adalah mencari uang tanpa memperhatikan kondisi pasien.
Bagaimanapun budaya saling menghargailah mesti dikembangkan agar ada rasa saling percaya antara pasien dan dokter. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/vssDrdrPribakti-B-SpOGK-Dokter-RSUD-Ulin-Banjarmasin.jpg)