Jendela

Humor Politik, Adil dan Beradab

Humor yang baik adalah, seperti judul Prisma edisi 2019 lalu, “humor yang adil dan beradab.” Jangan sampai ada ‘mens rea’, niat jahat

Editor: Hari Widodo
Foto Ist
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin. 

Kasus Pandji di atas menandai humor politik ataupun politik humor yang sama dan berubah dari apa yang terjadi sebelumnya di masa Orde Baru. Ketika belum ada internet dan media sosial, humor-humor politik lebih banyak ditampilkan dalam bentuk kartun sehingga jurnal Prisma, Januari 1996 mengangkatnya dengan judul “Kartun atau Pamflet Politik?”. Misalnya, ada kartun menggambarkan dialog antara dua orang pria sambil menunjuk bangunan: “Anti Banjir, Anti Gempa, dan Anti Gusur, Cocok untuk Penduduk Jakarta”. Kartun ini jelas kritik terhadap penggusuran yang terjadi kala itu.

Jika kita bandingkan, kartun tersebut tentu tak seberani berbagai meme yang beredar di media sosial saat ini. Apalagi dalam bentuk tulisan. Orang berpikir panjang untuk berani mengkritik pemerintah Orde Baru yang opresif itu.

Dalam artikelnya di Prisma edisi 1996, Jaya Suprana menegaskan bahwa saat itu banyak sekali humor politik. “Namun sayangnya, saya tidak berani berkisah satupun dari koleksi lelucon politik lucu-lucu itu melalui forum formal seperti media cetak ini demi keselamatan kita bersama! Lebih baik dibilang pengecut tetapi sama-sama selamat ketimbang konyal, lah!”

Namun, Bagito Grup, grup lawak masa itu, pernah diundang tampil di depan presiden. Salah satu anggota grup ini, Deddy Gumelar alias Mi’ing bercerita bahwa sebelum manggung, mereka sudah diperingatkan tidak boleh ini dan itu.

Saat tampil di depan Soeharto, Mi’ing bilang, “Dua minggu sebelum manggung hari ini, kami stres, pak. Sudah tiga kali ke dokter jantung”. Ternyata Soeharto tertawa. Mi’ing juga bercerita, saat ziarah ke makam kakeknya, dia membaca “bismillah”, tetapi sejenak kemudian sudah berada di atas, dia bilang “amin”. Ternyata ziarahnya itu di eskalator. Kawasan kuburan kakeknya sudah diubah menjadi Pondok Indah Mal! Soeharto pun tertawa.

Alhasil, entah di abad pertengahan atau di masa modern, di zaman Orde Baru ataupun Reformasi, kritik-kritik melalui humor politik selalu ada. Karena itu, yang penting kiranya bukan bagaimana menghindarinya, tetapi mengambil sisi baiknya.  Kritik yang benar tentu akan membantu perbaikan. Kritik yang asal-asalan, apalagi yang dipenuhi rasa benci dan dengki, sebaiknya diabaikan saja. Di sisi lain, humor yang baik adalah, seperti judul Prisma edisi 2019 lalu, “humor yang adil dan beradab.” Jangan sampai ada ‘mens rea’, niat jahat, entah dari pengkritik ataupun yang dikritik! (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved