Jendela

Citra Tionghoa

Dalam pidato Presiden Sukarno di PBB, antara lain menyesalkan mengapa saat itu Tiongkok belum diterima sebagai anggota PBB. 

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Foto Ist
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin 

Oleh: Mujiburrahman

Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOSTY.CO.ID- Pada 2023 lalu, UNESCO telah menetapkan Pidato Presiden Sukarno di PBB, 30 September 1960, yang diberi judul “To Build the World Anew” sebagai “Memory of the World”. Dalam pidato itu, Sukarno antara lain menyesalkan mengapa saat itu Tiongkok belum diterima sebagai anggota PBB. 

Baginya, Tiongkok adalah “a nation which is old, wise, and powerful” (bangsa yang tua, bijaksana dan kuat) serta “the biggest nation in the world” (bangsa terbesar di dunia). Indonesia, kata Sukarno, selalu mendukung keanggotaan Tiongkok demi memperkuat PBB itu sendiri.

Bung Karno benar adanya. Terbukti, di abad ke-21 ini, kita menyaksikan kebangkitan Tiongkok di bidang ekonomi, sains, dan teknologi yang luar biasa. Sebagian pengamat Barat bahkan mengakui bahwa sekarang Tiongkok sedang menanjak, sementara Amerika Serikat justru sedang menurun.

Tiongkok mungkin dapat dilihat sebagai negara komunis yang sukses menghadapi kapitalisme global dengan menciptakan kapitalisme negara yang efektif. Kini produk-produk Tionghoa membanjiri pasar dunia, tidak hanya berupa komoditas murahan, tetapi juga barang mewah dan mahal.

Mungkin karena jumlah mereka sangat banyak, dan wilayah kekaisaran Tongkok di masa lampau yang amat luas, orang-orang Tionghoa nyaris ada di mana-mana. “Di mana ada matahari, di situ ada orang Tionghoa” kata bintang film laga Jackie Chan.

Di Indonesia, orang Tionghoa sudah ada jauh sebelum bangsa Eropa datang menjajah wilayah ini. Sebagian mereka telah kawin-mawin dengan warga setempat, dan sebagian lagi tetap menjaga ikatan darah Tionghoanya. Secara umum, sebagaimana etnis lainnya, mereka kemudian menjadi orang Tionghoa sekaligus orang Indonesia.

Namun, orang Tionghoa di Indonesia berkali-kali mengalami petaka akibat rasisme, anti-Tionghoa. Di zaman Belanda, orang Tionghoa memang diberi keistimewaan di bidang ekonomi, yang lambat laun memicu kecemburuan di masyarakat dan menimbulkan sentimen anti-Tionghoa.

Baik di masa Sukarno, Suharto hingga masa Reformasi, sentimen anti-Tionghoa itu tetap ada. Amuk massa yang merusak harta benda, membakar, hingga memperkosa dan membunuh orang Tionghoa pernah terjadi di berbagai tempat. Yang menjadi korban biasanya justru orang Tionghoa yang tidak kaya raya.

Di sisi lain, pengaruh Tionghoa di Indonesia juga nyata. Klenteng dengan arsitektur khas berwarna merah dan ornamen naga dapat ditemukan di banyak kota di negeri ini. Makanan ala Tionghoa juga digemari masyarakat.

Bakso, bakpao, rupa-rupa mi hingga mi instan yang populer sampai ke luar negeri, besar kemungkinan mula-mula diperkenalkan oleh orang Tionghoa. Masakan Tionghoa memang kaya bumbu sehingga terasa di lidah. Pada 1950-an, orang Amerika bilang, “hidup bahagia adalah punya istri orang Jepang, tukang masak orang Tionghoa dan hidup ala Amerika”.

Selain makanan, budaya Tionghoa yang populer di Indonesia adalah seni beladiri. Seorang Tionghoa peranakan, Asmaraman Kho Ping Hoo (1926-1994), dikenal luas di Indonesia karena menulis cerita-cerita silat berlatar Tionghoa.

Meski dicetak sederhana dengan jilid-jilid yang tipis, karya-karyanya banyak digemari masyarakat. Publik juga menyukai film-film laga yang menampilkan seni beladiri kungfu dengan berbagai variannya, baik cerita modern ataupun klasik. Bruce Lee, Jet Li, Jackie Chan, Donnie Yen, Andi Lau, Gong Li adalah para bintang film yang terkenal di Indonesia.

Yang lebih dalam dari semua itu barangkali adalah ajaran kebijaksanaan hidup. Dalam cerita silat Kho Ping Hoo, orang tidak hanya terpukau karena kisah hidup tokoh-tokohnya dan kelincahan mereka dalam seni beladiri yang dibalut cerita asmara yang mengharukan, tetapi juga karena pesan-pesan moral yang disampaikannya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved