Jendela
Citra Tionghoa
Dalam pidato Presiden Sukarno di PBB, antara lain menyesalkan mengapa saat itu Tiongkok belum diterima sebagai anggota PBB.
Seperti Sufi, Kho Ping Hoo mengingatkan, untuk bahagia orang harus mampu tidak terikat pada apapun kecuali Tuhan. “Sekali hatimu terikat atau melekat pada sesuatu, berarti engkau telah membebani dirimu sendiri dan duka mulai membayangi dirimu,” tulisnya.
Taoisme yang diajarkan oleh Lao Tse juga mulai banyak didiskusikan di kalangan terpelajar Indonesia, terutama ajarannya tentang keseimbangan Yin dan Yang, sisi maskulin dan feminin, lelaki dan perempuan, dalam diri manusia.
Lelaki dan perempuan tidak bersaing untuk saling mengalahkan, tetapi untuk saling melengkapi. Inilah asas kebahagiaan keluarga. Dalam diri tiap orang (lelaki dan wanita), ada pula unsur Yin dan Yang itu. Tiap orang bisa tegas, melawan, dan menghukum, dan bisa pula mengasihi, melindungi dan menumbukan. Dua sisi ini harus seimbang dalam hidup manusia.
Dalam wacana kaum intelektual Muslim, keseimbangan Yin dan Yang itu sejalan dengan pembagian nama-nama Allah yang disebut Jalal (maskulin) seperti Maha Agung, Maha Adil, Maha Membalas, dan Jamal (feminin) seperti Maha Pengasih, Maha Pengampun, Maha Mencintai. Nama-nama Allah yang maskulin membuat kita takut, sedangkan yang feminin membuat kita tak putus asa.
Keduanya harus kita hayati secara seimbang. Begitu pula dalam bersikap pada orang lain. Kita tak boleh hanya menyayangi atau hanya menjatuhkan sanksi. Keduanya diperlukan sesuai tuntutan keadaan.
Jika kerangka keseimbangan itu kita gunakan untuk melihat siapapun dan etnis apapun, maka kita akan bisa bersikap lebih adil. Secara ekonomi, karena kesenjangan masih menganga di masyarakat kita, terlepas apapun etnisnya, kita wajib mengangkat dan melindungi mereka yang lemah agar tumbuh kesetaraan.
Di sisi lain, hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Sementara itu, perbedaan adat dan budaya harus dihormati sebagai kekayaan bersama. Meminjam ungkapan Gus Dur, “Yang sama jangan dibeda-bedakan, dan yang berbeda jangan disama-samakan”. Selamat Imlek! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Banjarmasin7.jpg)