Jendela

Rumi, Cendekiawan dan Politik

“Seburuk-buruk ulama adalah yang mengunjungi penguasa, dan sebaik-baik penguasa adalah yang mengunjungi ulama.

Editor: Ratino Taufik
istimewa
Prof DR H Mujiburrahman MA 

Seorang cendekiawan yang ahli ilmu politik bisa saja menjadi pembisik penguasa untuk memanipulasi regulasi dan informasi atau merekayasa kekuatan-kekuatan sosial untuk kepentingan pribadi si penguasa dan merugikan rakyat banyak. Seorang ahli sains dan teknologi bisa saja menciptakan senjata kimia atau nuklir, lalu diberikan kepada penguasa yang zalim.

Demikianlah, kuasa dan ilmu itu saling terkait, dan kadangkala identik. Yang pasti, baik kuasa ataupun ilmu, keduanya merupakan keistimewaan. Tak semua orang bisa berkuasa, dan tak semua orang bisa menjadi cendekiawan.

Mereka kaum elit di masyarakat. Dalam hidup bersama, keistimewaan tidak hanya mengandung hak, tetapi juga kewajiban. Hak istimewa mengandung kewajiban istimewa. Kewajiban penguasa dan cendekiawan adalah melayani, melindungi dan mengangkat si papa, berdasarkan petunjuk-petunjuk ilmu tentang yang baik, benar dan adil.

Begitulah yang seharusnya. Karena itu, sangat disayangkan jika penguasa menganggap cendekiawan sebagai ancaman, atau sebaliknya, cendekiawan menganggap penguasa sebagai musuh. Lebih buruk lagi jika cendekiawan dan penguasa bersekongkol menipu rakyat! (*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Iyyaka Na’budu

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved