Kolom
Memanusiakan Para Buruh
Saat ini KITA mungkin tidak kekurangan tenaga kerja. Namun tanpa disadari, kita mulai kekurangan cara untuk memperlakukan mereka sebagai manusia.
Dalam situasi seperti ini, para pekerja tetap diminta untuk produktif, loyal, dan tangguh. Mereka tetap hadir, tetap bekerja, dan tetap menjaga roda ekonomi berputar bahkan ketika kepastian tidak selalu berpihak.
Ketika energi terus diambil tanpa pemulihan yang layak, yang terkikis bukan hanya tenaga, tetapi juga makna bekerja itu sendiri. Tekanan yang terus meningkat, ketidakpastian yang berkepanjangan, serta terbatasnya ruang dialog, perlahan membentuk kelelahan yang tidak selalu tampak, tetapi nyata dirasakan.
Di tengah ketidakpastian itu, ada satu hal yang juga perlu mulai diperkuat: ketahanan individu.
Bagi sebagian pekerja, bekerja bukan lagi sekadar rutinitas, tetapi upaya menjaga keberlangsungan hidup keluarga. Dalam kondisi seperti ini, membangun kapasitas menjadi penting—termasuk kemampuan melihat peluang, mengelola sumber daya, dan memiliki alternatif penghasilan.
Di sinilah peringatan 1 Mei seharusnya menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk mengoreksi arah. Momentum untuk bertanya secara jujur, apakah kita sedang membangun sistem yang kuat, atau justru memperkuat ketimpangan yang tidak kita sadari?
Refleksi ini penting, karena tanpa kesadaran, perubahan tidak akan pernah terjadi. Perusahaan perlu memastikan bahwa pertumbuhan berjalan seiring dengan penghargaan terhadap manusia.
Lingkungan kerja yang sehat, sistem yang adil, serta kepastian yang jelas bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun kepercayaan.
Pemerintah hadir bukan sekadar sebagai pengatur, tetapi sebagai penjaga keseimbangan. Kebijakan yang berpihak, pengawasan yang konsisten, serta keberanian menempatkan keadilan sebagai prioritas menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem kerja yang lebih manusiawi.
Lebih dari itu, ada beberapa langkah konkret yang perlu diperkuat untuk benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi para buruh.
Pertama, memastikan implementasi Undang-Undang Cipta Kerja berjalan secara berimbang. Tidak hanya mendorong investasi, tetapi juga menjamin perlindungan nyata bagi pekerja, terutama dalam hal kepastian kerja dan perlindungan saat terjadi pemutusan hubungan kerja.
Kedua, memperkuat sistem pengawasan ketenagakerjaan agar tidak berhenti pada aturan di atas kertas. Kehadiran negara harus benar-benar dirasakan di lapangan.
Ketiga, mendorong program peningkatan keterampilan yang berkelanjutan agar pekerja mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.
Keempat, menghadirkan jaring pengaman sosial yang lebih kuat, sehingga kehilangan pekerjaan tidak serta-merta berarti kehilangan seluruh harapan hidup.
Kelima, membangun ruang dialog yang sehat antara pemerintah, pengusaha, dan buruh—bukan sekadar formalitas, tetapi ruang yang benar-benar menghasilkan keadilan.
Kita semua, sebagai bagian dari masyarakat, memiliki peran yang tidak kalah penting. Cara kita memandang pekerjaan dan memperlakukan sesama akan menentukan wajah peradaban yang kita bangun bersama.
Memanusiakan buruh bukan tentang memberi lebih, tetapi tentang mengembalikan yang seharusnya.
Mengembalikan rasa aman dalam bekerja. Mengembalikan kepastian dalam kehidupan. Mengembalikan ruang untuk didengar. Dan yang paling penting, mengembalikan penghargaan terhadap martabat manusia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/RK-Ariyandi-Praktisi-Perbankan1.jpg)