Fikrah
Jihad Nafs
Berikut ini adalah pengertian Jihad Nafs yakni erjuangan seseorang muslim mukmin untuk menegakkan Islam di dalam dirinya sendiri
KH Husin Naparin Lc MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - JIHAD Nafs ialah perjuangan seseorang muslim mukmin untuk menegakkan Islam di dalam dirinya sendiri, yaitu betul-betul istikamah dalam iman, istikamah dalam ibadah fardu dan mulazamah (ketekunan) berbuat sesuatu yang terbaik (afdal).
Diriwayatkan, seorang laki-laki minta nasihat kepada Rasullah SAW. Beliaupun memberinya nasihat pendek namun mendasar : “Katakan olehmu, aku telah beriman kepada Allah kemudian anda Istikamah (konsisten dalam iman) .”
Istikamah berarti konsesten, pertama istikamah dalam iman. Istikamah dalam iman memerlukan jihad. Betapa banyak godaan menarik dan rayuan menjerat sehingga tanpa istikamah iman bisa menjadi goyah.
Kedua seseorang hendaklah istikamah dalam tobat. Berapa banyak orang menutur kata “astagfirullah”, (memohon ampun kepada Allah SWT) sebagai pertanda tobat, namun kadang-kadang dengan mudah pula ia mengulangi kekeliruan dan dosa yang sama
Inilah yang dikatakan oleh Rabi’atul Adawiyah “Istigfar kita memerlukan lagi istigfar”. Banyak orang mengira tobat hanyalah bagi mereka yang berbuat kemaksiatan, Ini keliru.
Tobat diperlukan bukan hanya oleh mereka yang berbuat maksiat, tetapi juga bagi mereka yang taat, yaitu tobat dari kekurangan (taqstir) yang terdapat dalam ketaatan itu sendiri dan dari persangkaan bahwa ketaatannya itu telah sempurna.
Tobat orang yang taat kepada Allah SWT adalah perisai bagi ketaatannya dan obat pembasmi hama bagi tanaman taatnya.
Ketiga istikamah dalam ibadah fardu, ialah seseorang berusaha sepenuhnya untuk melaksanakan ibadah wajib yang diembankan kepadanya, salat, zakat dan hajinya.
Salat umpamanya; apakah salat sudah yang terbaik? Seseorang, kendati tidak mampu mendirikan salat seperti Ali bin Thalib r.a, ketika salat, ia sama sekali tidak merasakan sakit manakala anak panah yang menancap di badannya dicabut. Minimal seseorang berusaha mencapai khusyuk.
Hal ini barangkali dengan berusaha memahami makna apa yang dibaca, menyempurnakan rukuk dan sujud.
Jangan sampai mendirikan salat seperti yang disinyalir oleh Nabi SAW dalam sebuah dialog, “Maukah kalian kuberitahu tentang pencurian terjelek yang dilakukan oleh seorang ?” Sahabat bertanya, “Siapakah orang itu, wahai Rasul ?” Rasul SAW menjawab, “ Yaitu orang yang mencuri dalam salatnya”.
Para sahabat bertanya lagi, “Bagaimana ia bisa mencuri dalam salat ?” Rasulullah SAW menjawab pula, “Yaitu orang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya”.
Upaya maksimal mendirikan ibadah fardu memerlukan jihad, itulah jihad menegakkan Islam di dalam diri sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-ma-saat-pertemuan-sosialisasi_20180901_120447.jpg)