Fikrah

Silang Pendapat

Perbedaan yang ada di dunia ini adalah bagian dari kehendak Allah, tidak hanya sebatas perbedaan fisik, tetapi juga sampai perbedaan pemikiran

Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin Lc MA Ketua MUI Kalsel 

Kedua, mengedepankan toleransi dan tenggang rasa, saling memahami satu sama lain tanpa perlu menghakimi orang lain. Sekalipun Nabi tegas memberantas kemaksiatan, akan tetapi Nabi tetap sayang kepada sahabatnya yang masih belum bisa taat di jalan Allah.

Hal ini pernah terjadi pada sahabat Nabi yang bernama Nuaiman. Ia merupakan pemabuk, tapi ia tetap mencintai Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, Nabi pun melarang para sahabatnya yang lain mencaci makinya. Dengan mencaci maki menurut Nabi, itu akan mempermudah setan menjerumuskan Nuaiman tersebut.

Ketiga, mendahulukan dialog daripada ingin merasa menang sendiri. Anjuran berdialog ini terdapat dalam surah al-Nahl ayat 125 yang memerintahkan kita sebagai umat Muslim untuk berdialog dengan cara yang bijaksana, tidak tempramen, dan terbuka terhadap masukan dan kritikan. Terlebih lagi kita ini hidup di era demokrasi yang membolehkan siapapun berpendapat.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk”.

Keempat, berupaya untuk mencari titik temu yang dalam bahasa Al-Qur’an kalimatun sawa (QS. Ali ‘Imran ayat 64). Titik temu itu biasanya dapat dilakukan dengan cara memilih suara terbanyak dari hasil diskusi yang sudah dilakukan.

 Mufassir nusantara seperti Hasbi as-Shiddiqy. Al-Siddiqy menggunakan istilah kalimatun sawa’ sebagai konsep kesepakatan di tengah perbedaan keyakinan.

Secara sederhana, kalimatun sawa’ berarti suatu titik temu di tengah perbedaan untuk menghindari perselisihan agar mencapai kemaslahatan bersama. Imam Syafi’i mengemukakan bahwa pendapatku benar, tetapi memiliki kemungkinan untuk salah, sedangkan pendapat orang lain salah tetapi memiliki kemungkinan untuk benar. Pendapat bijak tersebut menunjukkan, bahwa kebenaran itu relatif dan tidak mutlak.

Pada akhirnya perbedaan adalah keniscayaan, mudah saja bagi Allah menyatukan semuanya, namun banyak hikmah yang Allah hadirkan dalam setiap perbedaan. Ingatlah Allah SWT berfirman dalam Surah Hud ayat 118 yang artinya “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikanmu manusia sebagai umat yang satu…”. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved